HALOOO!
Lama sudah tidak menyapa. Pagi Minggu aku sudah menyiapkan suamiku sarapan (Sop+Tempe Goreng+Sambal Cobek+Tahu Bakso). Tak Lupa, beliau menyeruput segelas teh hangat yang sudah aku siapkan. Beliau jogging sendirian pagi ini karena aku lagi gak mood.
Btw Mood ku, sungguh sungguh buruk sejak kejadian itu.
Hingga hari ini aku tak menyukai beliau. Ya, seorang Kepala berinisial M.
Kejadian tanggal 17 Agustus 2026 di Lapangan sekolah, itu menjadi trigger. Moodku kadang sangat tinggi atau sangat sangatt sedih.
Saat itu kami (pegawai lingkungan), mengikuti Upacara kenaikan bendera dengan khidmat.
Meski beberapa peserta lain ada yang terhalang dengan selendang yang terus merosot, sambil memeluk anak untuk upacara. Kami berusaha mengikutinya hingga selesaai.
Hingga pada detik bendera telah dinaikkan, pemimpin upacara mengatakan "Tegaaap Gerak".
M, menyentil semuanya posisi SIAP!
Tak terkecuali aku, tanpa berbicara, tatapan kedepan. Hanya tangan sebelah kiri saya menyandang selendang.
Tatapannya terus ke barisan guru-guru MAN (barisan Kami).
"Ibu yang dibelakang baju biru! Berjilbab Cokelat! Berkacamata!" Ujar M
Lantas saya mengangkat tangan, "Saya Pak?"
"Silahkan keluar dari Barisan! Silahkan Pulang!" Lanjut M
Aku pun perlahan berjalan menuju ke belakang, mengambil Tas.
Namun aku tidak pulang. Karena menunggu HP yang aku titipkan di temanku sebelum mengikuti Upacara. Juga tidak enak mengengkol motorku yang pengapiannya (Accu-nya) sedang rusak.
Aku menyaksikan upacara itu dipinggiran hingga usai. Ku lihat 2 orang pegawai yang baru datang, menggunakan sandal dengan baju adatnya. Aku berteman dengan bu El yang tidak bisa ikut berbaris karena sambil mengasuh anaknya.
Setelah melipir Air mataku tidak langsung menetes, hanya saja aku kecewa.
Apakah perlakuan ini sudah pantas diterima oleh seorang guru perempuan yang beberapa muridnya mengikut upacara di lokasi yang sama?
Tidakkah cukup dengan menegur, ibu yang berbaju cokelat. Mohon tangannya dikondisikan, karena salah. Aku pun akan segera menurunkan tanganku.
Saat mengajar di kelas
Salah seorang murid bertanya.
"Ibu, Ibu kemarin ikut upacara di ... ya ?" Ujar murid.
"Ya" Jawabku.
"Ibu ada pengalaman pahit ya, kemarin?" Lanjutnya
"Kamu tahu dari mana, Nak" Jawabku.
"Tahu dari kakak tingkat yang mengikuti upacara kemarin" jawabnya
Jujur, Aku belum bisa memaafkan. Aku masih terluka. Tapi aku tidak akan membalas dengan keburukan. Aku akan tetap bekerja. Tetap mengajar. Tetap belajar. Tetap menulis. Tetap membuat karya.”
Bismillah...
Dan kalau suatu hari nanti kamu berhasil mencapai sesuatu yang besar, aku berkata :
“Ternyata Allah membawaku ke tempat yang jauh lebih baik setelah aku melewati hari yang sangat menyakitkan itu.”